Minggu, 01 November 2009

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA TERHADAP PENYAKIT HIPERTENSI

2.1 Konsep Pengetahuan
Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Menurut teori Sigmund Freud, salah satu aspek perkembangan manusia adalah perkembangan kognitif. Hal ini merujuk pada proses internal dari produk pikiran manusia yang mengarah pada konsep mengetahui termasuk di dalamnya semua aktifitas mental seperti mengingat, menghubungkan, mengklasifikasi, memberi simbol, mengimajinasi, pemecahan masalah, penalaran persepsi, berkreasi, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. (Erfand:2009).
2.1.1. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. Disini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pasca indera manusia,yakni indera penglihatan,pendengaraan,penciuman,rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kongnitif merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). (Notoatmojo,2003).

Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. (Erfand:2009).
2.1.2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Bloom 1956, dikutip dari Notoatmojo, 2003 bahwa pengetahuan tercakup dalam dominan kongnitif yang mempunyai tingkatan yaitu :
a. Tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam keadaan pengetahuan tingkat ini adalah meningat kembali (recall) sesuatu yang sepesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu itu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (compherehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang dapat diketahui dan dapat diinterpretasikan materi tersebut itu secara benar. Orang yang telah paham terhadap oleh objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (aplication) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus, prinsip dan sebagainya atau situasi yang lain.
d. Aplikasi (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetepi masih didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (syntesis) menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formasi-formasi baru dari formulasi yang ada
f. Evaluasi (evaluation) ini berkaitan dengan pengetahuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada.
2.1.3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut (Notoatmodjo:2002), cara memperoleh pengetahuan adalah sebagai berikut :
a. Cara tradisional atau non ilmiah
1. Cara coba-salah atau trial and error
Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, apabila kemungkinan kedua gagal, maka dicoba kembali dengan kemungkinan ketiga dan seterusnya sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.
2. Cara kekuasaan atau otoritas
Pengetahuan di dapatkan dari kebiasaan-kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sumber pengetahuan berupa pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya.
3. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman pribadi, dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi di masa lalu.
4. Melalui jalan pikiran
Pengetahuan diperoleh dari penggunaan penalaran atau jalan pikiran, baik dengan induksi maupun deduksi. Induksi dan deduksi merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan, kemudian di cari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.

b. Cara modern atau ilmiah
Cara ini disebut penelitian ilmiah atau metodologi penelitian. Mula-mula diadakan pengamatan langsung dari suatu gejala, kemudian hasil pengamatan dikumpulkan di klasifikasikan dan akhirnya di ambil kesimpilan umum.
2.1.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Umur
Dengan bertambahnya umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Makin tua umur seseorang makin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi (Nursalam & Siti Pariani:2001).
b. Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah mencerna informasi sehingga semakin banyak juga pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam & Siti Pariani:2001).
c. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang. Middle book (1974) yang dikutip oleh Saifudin Azwar, mengatakan bahwa tidak adanya suatu pengalaman sama sekali dengan suatu obyek tersebut. Untuk menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan pengalaman akan lebih lama membekas ( Saifudin Azwar: 2003).
d. Informasi
Informasi merupakan fungsi yang penting sebelum dilakukan suatu tindakan bahkan klien dapat mengambil keputusan yang tepat dan memberi kesempatan untuk bertanya lebih lanjut (Nursalam & Siti Pariani:2001).
e. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita ( Saifudin Azwar:2003).
2.2 Konsep Sikap
2.2.1 Pengertian
Sikap adalah selalu komplek predisposisi yang dipelajari yang mempengaruhi tingkah laku, berubah dalam hal intensitasnya, biasanya konsisten sepanjang waktu dalam situasi yang sama dan komposisinya hampir selalu komplek (Ahmadi Abu, 2007)
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimilus atau objek (Notoatmojo:2003) manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup.

2.2.2 Pembentukan Sikap
a. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap
Sebagaimana diketahui bahwa sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan di bentuk berdasarkan pengalaman individu sepanjang perkembangan selama hidupnya. Pada manusia makhluk social, pembentukan sikap tidak lepas dari pengaruh interaksi manusia satu dengan yang lain(eksternal). Disamping itu manusia juga sebagai makhluk individual sehingga apa yang dating dari dalam dirinya (internal) juga mempengaruhi pembentukan sikap.
1. Faktor internal
Factor ini berasal dari dalam individu. Dalam hal ini individu menerima, mengolah dan memilih segala sesuatu yang datang dari luar serta mana yang akan diterima atau tidak. Oleh karena itu factor individu merupakan factor penentu pembentukan sikap. Factor intern ini menyangkut motif dan sikap yang bekerja dalam diri individu pada saat itu, serta yang mengarahkan minat dan perhatian (psikologi), juga perasaan sakit, lapar dan haus (fisiologis)
2. Factor eksternal
Factor ini berasal dari luar diri individu, berupa stimulus untuk membentuk dan mengubah sikap. Stimulus tersebut dapat bersifat langsung, misalnya individu dengan individu, individu dengan kelompok. Dapat juga bersifat tidak langsung, yaitu melalui perantara seperti alat komunikasi dan media masa baik elektronik maupun non elektronik. Contoh: pengalaman yang diperoleh individu, situasi yang dihadapi individu, norma dalam masyarakat, hambatan dan pendorong yang dihadapi individu dalam masyarakat.
b. Komponen dalam pembentukan sikap
1. Kognitif ( pengetahuan, pemahaman, penerapan)
Aspek kognitif berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan objek. Misalnya: orang tahu bahwa kesehatan itu sangat berharga karena individu menyadari apabila sakit, terasa betapa nikmatnya sehat.
2. Afektif (penerimaan, pemberian respon, penilaian)
Komponen ini Menunjuk pada dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik yang positif (rasa senang) maupun negatif (rasa tidak senang). Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai sesuatu yang benar terhadap objek sikap tersebut. Misalnya:- individu senang (sikap positif) terhadap profesi keperawatan berarti individu melukiskan perasaanya terhadap keperawatan. – masyarakat umumnya tidak senang terhadap tindakan kekerasan, perjudian, pelacuran serta kejahatan.
3. Konatif (persepsi, pengaturan)
Disebut juga komponen perilaku yaitu komponen sikap yang berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan dalam bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya. Misalnya: - individu mengetahui bahwa profesi keperawatan adalah pekerjaan yang mulia maka banyak lulusan SLTA yang masuk ke Akademi Keperawatan.
2.2.3 Adapun tingkatan sikap antara lain:
a. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek)
b. Merespon (responding) Suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan.
c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya atas segala sesuatu yang telah dipilihnya.
2.2.4 Pengukuran Sikap
a. Skala Thurstone (Method of Equel-Appearing Intervals)
Metode ini caranya dengan memberikan orang tersebut dengan suatu sikap yang telah ditentukan derajad nya. Derajat (ukuran) ini disebut nilai skala. Untuk menghitung nilai skala dan memilih pernyataan sikap, pembuat skala perlu membuat sampel pernyataan sikap kemudian diberikan kepada beberapa orang penilai (judges). Penilai ini bertugas untuk menentukan derajat favorabilitas masing-masing pernyataan. Favorabilitas penilai itu diekspresikan melalui titik skala rating yang memiliki rentang 1-11. Sangat tidak setuju 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sangat setuju Tugas penilai ini bukan untuk menyampaikan setuju tidaknya mereka terhadap pernyataan itu. Median atau rerata perbedaan penilaian antar penilai terhadap aitem ini kemudian dijadikan sebagai nilai skala masing-masing aitem. Pembuat skala kemudian menyusun aitem mulai dari atem yang memiliki nilai skala terrendah hingga tertinggi. Dari aitem-aitem tersebut, pembuat skala kemudian memilih aitem untuk kuesioner skala sikap yang sesungguhnya. Dalam penelitian, skala yang telah dibuat ini kemudian diberikan pada responden. Responden diminta untuk menunjukkan seberapa besar kesetujuan atau ketidak setujuannya pada masing-masing aitem sikap tersebut.
b. Skala Likert (Method of Summateds Ratings)
Likert (1932) mengajukan metodenya sebagai alternatif yang lebih sederhana dibandingkan dengan skala Thurstone. Skala Thurstone yang terdiri dari 11 point disederhanakan menjadi dua kelompok, yaitu yang favorable dan yang unfavorabel. Sedangkan aitem yang netral tidak disertakan. Untuk mengatasi hilangnya netral tersebut, Likert menggunakan teknik konstruksi test yang lain. Masing-masing responden diminta melakukan egreement atau disegreemenn-nya untuk masing-masing aitem dalam skala yang terdiri dari 5 point ( Sangat setuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju, Sangat Tidak Setuju). Semua aitem yang favorabel kemudian diubah nilainya dalam angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5 sedangkan untuk yang Sangat Tidak setuju nilainya 1. Sebaliknya, untuk aitem yang unfavorabel nilai skala Sangat Setuju adalah 1 sedangkan untuk yang sangat tidak setuju nilainya 5. Seperti halnya skala Thurstone, skala Likert disusun dan diberi skor sesuai dengan skala interval sama (equal-interval scale).

c. Unobstrusive Measures.
Metode ini berakar dari suatu situasi dimana seseorang dapat mencatat aspek-aspek perilakunya sendiri atau yang berhubungan sikapnya dalam pertanyaan.
d. Multidimensional Scaling.
Teknik ini memberikan deskripsi seseorang lebih kaya bila dibandingkan dengan pengukuran sikap yang bersifat unidimensional. Namun demikian, pengukuran ini kadangkala menyebabkan asumsi-asumsi mengenai stabilitas struktur dimensinal kurang valid terutama apabila diterapkan pada lain orang, lain isu, dan lain skala item
2.3 Konsep Hipertensi
2.3.1 Pengertian
Hipertensi didefenisikan oleh Joint National Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure (JNC) sebagai peningkatan tekanan yang lebih tinggi dari 140/90mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahanya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi malignan (Doenges: 1999)

2.3.2 Faktor Resiko
a. Host (Penjamu)
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit hipertensi pada penjamu:
1. Daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Daya tubuh seseorang sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi, aktifitas, dan istirahat. Dalam hidup modern yang penuh kesibukan juga membuat orang kurang berolagraga dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok , minum alkohol, atau kopi sehingga daya tahan tubuh menjadi menurun dan memiliki resiko terjadinya penyakit hipertensi.
2. Genetik
Jika salah satu orang tua menderita tekanan darah tinggi atau pernah mendapat stroke sebelum usia 70 tahun. Risiko ini meningkat menjadi 3 : 5 jika kedua orang tua mengalaminya. Peran faktor genetik terhadap hipertensi primer dibuktikan dengan berbagai faktor yang dijumpai. Adanya bukti bahwa kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada pasien kembar monozigot dari pada heterozigot. Jika salah satu diantaranya menderita hipertensi. Menyokong pendapat bahwa genetik mempunyai pengaruh terhadap timbulnya hipertensi. Sebanyak 60% penderita hipertensi didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarganya, walaupun hal ini belum dapat memastikan diagnosa hipertensi. Jika salah seorang dari orang tua ada yang mengidap tekanan darah tinggi, maka anda akan mempunyai peluang sebesar 25% untuk mewarisinya selama hidup. Jika kedua orang tua mempunyai tekanan darah tingi maka peluang untuk terkena penyakit ini akan meningkat menjadi 60%. Beberapa orang yang mengidap tekanan darah tinggi, gen yang menentukan reproduksi dan pelepasan angiotensin dalam tubuh mugkin mengalami kerusakan yang menyebabkan tubuh orang-orang tersebut memproduksi angiotensin terlalu banyak. (Rohaendi:2008)
3. Umur
Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Satu dari lima pria berusia diantara 35-40 tahun memiliki tekanan darah yang tinggi. Angka prevalensi tersebut menjadi dua kali lipat pada usia antara 45-54 tahun. Sebagian dari mereka yang berusia 55—64 tahun mengidap penyakit ini. Pada usia 65-74 tahun prevalensinya menjadi lebih tinggi lagi sekitar 60% menderita hipertensi. (Rohaendi:2008)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan hipertensi berdasarkan umur dalam 3 (tiga) kriteria, yaitu
a) Kelompok umur 20-29 tahun, 150/90 mm Hg.
b) Kelompok umur 30-64 tahun,160/95 mm Hg.
c) Kelompok umur 65 tahun, 170/95 mm Hg.
4. Jenis Kelamin
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa pada umumnya lebih banyak pria menderita hipertensi dibandingkan dengan perempuan. Wanita > Pria pada usia > 50 tahun, sedangkan Pria > wanita pada usia < 50 tahun. Ini terjadi karena wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause.Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.
5. Adat Kebiasaan
Kebiasaan- kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman kesehatan bagi orang tersebut seperti:
a) Gaya hidup modern yang mengagungkan sukses, kerja keras dalam situasi penuh tekanan, dan stres terjadi yang berkepanjangan adalah hal yang paling umum serta membuat orang kurang berolah raga , dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok, minum alkohol atau kopi , padahal semuanya termasuk dalam daftar penyebab yang meningkatkan resiko hipertensi.
b) Pola makan yang salah, faktor makanan modern sebagai penyumbang utama terjadinya hipertensi. Makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi, dapat meningkatkan tekanan darah karena mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih.
6. Pekerjaan
Stress pada pekerjaan cenderung menyebabkan terjadinya hipertensi berat karena Stres yang terlalu besar dapat memicu terjadinya berbagai penyakit misalnya sakit kepala,sulit tidur, tukak lambung, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
7. Ras/ Suku
Ras/Suku : Di USA, Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada yang berkulit putih. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun pada orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopressin lebih besar. Di Indonesia penyakit hipertensi terjadi secara bervariasi.
b. Agent (Penyebab Penyakit).
Agent adalah suatu substansi tertentu yang keberadaannya atau ketidakberadaannya dapat menimbulkan penyakit atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Untuk penyakit hipertensi yang menjadi agen adalah :
1. Faktor Nutrisi
Konsumsi natrium dan garam dapur (mengandung iodium) yang berlebih, Minuman berkafein dan beralkohol, Makanan cepat saji yang kaya daging juga merupakan salah satu penyebab obesitas (berat badan berlebih ). semua itu dapat meningkatkan volume darah sehingga berdampak timbulnya hipertensi.
2. Faktor Kimia
Mengkonsumsi obat-obatan seperti kokain, Pil KB Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Penyalahgunaan alkohol, Kayu manis (dalam jumlah sangat besar).
3. Faktor Biologi
a) Tekanan darah tinggi berhubungan dengan resistensi insulin dan/ atau peningkatan kadar insulin (hiperinsulinemia). Keduanya tekanan darah tinggi dan resistensi insulin merupakan karakteristik dari sindroma metabolik , kelompok abnormalitas yang terdiri dari obesitas, peningkatan trigliserid, dan HDL rendah (kolesterol baik) dan terganggunya keseimbangan hormon yang merupakan faktor pengatur tekanan darah.
b) Walaupun sepertinya hipertensi merupakan penyakit keturunan, namun hubungannya tidak sederhana. Hipertensi merupakan hasil dari interaksi gen yang beragam, sehingga tidak ada tes genetik yang dapat mengidentifikasi orang yang berisiko untuk terjadi hipertensi secara konsisten.

4. Faktor Fisik
a) Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat.
b) Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga) bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan
c) Berat badan berlebih /Obesitas adalah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dengan kebutuhan energi yang disimpan dalam bentuk lemak (jaringan sub kutan tirai usus, organ vital jantung, paru dan hati) yang menyebabkan jaringan lemak in aktif sehingga beban kerja jantung meningkat. Obesitas juga didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih dari berat badan ideal. Prevalensi obesitas menunjukan peningkatan sesuai dengan pertambahan usia pada umumnya berat badan laki-laki mencapai puncaknya pada usia 35-65 tahun dan pada wanita antara 55-65 tahun. Berat badan normal terjadi pada saat dewasa dan meningkat secara cepat pada usia 50 tahun. Tingkat metabolik basal dan pengeluaran energi untuk aktivitas fisik menurun saat memasuki usia dewasa sehingga kalori hanya dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan energi. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi serta diabetes mellitus. Selain itu berat badan berlebih akan meningkatkan detak jantung dan tingkat insulin dalam darah. Meningkatnya insulin menyebabkan tubuh anda meningkat sodium dan air. Semakin besar massa tubuh, semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi kepada jantung. Berarti volume darah yang diedarkan melalui pembuluh darah meningkat menciptakan kekuatan tambahan pada dinding arteri. (Rohaendi:2008)
c. Environment (Lingkungan)
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup misalnya gaya hidup kurang baik seperti gaya hidupnya penuh dengan tekanan (Stres), Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan, terdapatnya perbedaan keadaan geografis, dimana daerah Pantai lebih berisiko terjadinya penyakit hipertensi dibanding dengan daerah pegunungan.

2.3.3 Gejala Terjadinya Penyakit Hipertensi
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut: sakit kepala, jantung berdebar-debar, kelelahan, mual muntah, sesak nafas, sering buang air kecil terutama di malam hari, telinga berdenging, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. (Muhaimin: 2008)
Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal dan Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. (Rohaendi :2008).
2.3.4 Klasifikasi
Klasifikasi Berdasarkan penyebab yaitu
a. Hipertensi primer atau esensial atau pula hipertensi idiopatik adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi jenis ini merupakan 90% kasus hipertensi yang banyak terjadi di masyarakat. Hipertensi ini merupakan proses kompleks dari beberapa organ utama dan sistem, meliputi jantung, pembuluh darah, saraf, hormon dan ginjal (Dian Ibnu:2008 )
b. Hipertensi sekunder adalah naiknya tekanan darah yang diakibatkan oleh suatu sebab. Hipertensi jenis ini terjadi pada 5% kasus yang terjadi di masyarakat. Selain itu ada beberapa jenis hipertensi dengan ciri khas khusus, Pregnancy Induced Hypertension adalah kondisi naiknya tekanan darah yang terjadi selama kehamilan, dimana naiknya tekanan darah sistolik dan diastolik lebih dari 15 mmHg. (Dian Ibnu:2008 )
c. Selain itu terdapat kondisi yang dinamakan White Coat Hypertension. Bentuk hipertensi ini adalah meningkatnya tekanan darah yang terjadi selama kunjungan ke dokter, namun tidak di rumah. Hipertensi ini merupakan faktor pada kira-kira 20% pasien dengan hipertensi ringan (Dian Ibnu:2008 )
Klasifikasi menurut JNC/ DETH sebagai berikut:
Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Usia >18 Tahun
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal
Normal tinggi
Hipertensi:
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
Stadium 4 <130
130-139

140-159
160-179
180-209
>210 <85
85-89

90-99
100-109
110-119
>120


WHO membagi hipertensi sebagai berikut:
Tabel 2.3. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut WHO
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal
Borderline
Hipertensi definitif
Hipertensi ringan 140
140-159
160
160-179 90
90-94
95
95-140
2.3.5 Komplikasi
Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal
Tabel. 2.4 Komplikasi Hipertensi.
NO SISTEM ORGAN KOMPLIKASI
1. Jantung a) Infark miokard
b) Angina pectoris
c) Gagal jantung kongestif
2. System saraf pusat a) Stroke
b) Ensefalopati hipertensi
3. Ginjal Gagal ginjal kronis
4. Mata Retinopati hipertensif
5. Pembuluh darah perifer Penyakit pembuluh darah perifer

Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian.
2.3.6 Pemeriksaan Penunjang
Perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium pada pasien hipertensi dengan tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mencari kemungkinan penyebab Hipertensi sekunder
2. Untuk menilai apakah ada penyulit dan kerusakan organ target
3. Untuk memperkirakan prognosis
4. Untuk menentukan adanya faktor-faktor lain yang mempertinggi risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Tes laboratorium meliputi:.
a. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
b. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
c. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
e. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
f. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
g. foto dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran jantung.
2.3.7 Pencegahan Hipertensi
a. Mengurangi konsumsi garam
Pembatasan konsumsi garam sangat dianjurkan, maksimal dua garam gram garam dapur untuk diet setiap hari.
1. Diet rendah garam I (200 mg – 400 mg Na).
Dalam pemasukan tidak ditambahkan garam dapur. Bahkan makanan tinggi natrium dihindarkan kepada penderita dengan oedema, ansietas dan hipertensi berat.
2. Diet rendah garam II 9600 mg – 800 mg Na).
Pemberian makan sehari sama dengan diet rendah garam I. dalam pemasukan dibolehkan menggunakan 0,25 sendok the garam dapur (satu gram), bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan ini diberikan dengan penderita oedema, asietas dan hipertensi tidak terlalu berat.
3. Diet rendah garam III (1.000 mg – 1.200 mg Na).
Pemberian makan sehari sama dengan diet garam I. dalam pemasakkan dibolehkan menggunakan 0,25 sendok the (2 gram) garam dapur. Makanan ini diberikan kepada penderita oedema dan hiopertensi ringan.
b. Menghindari kegemukan
Hindarkan kegemukan dengan menjaga berat badan normal tidak berlebihan. Batasan kegemukan jika berat jika berat badan lebih dari 10 % dari berat badan normal.

Rumus Bloca : BB Normal = TB – 100
BB Ideal = (TB – 100) – 10%(TB – 100)
Keterangan:
BB = berat badan (kg)
TB = Tinggi badan (cm)
c. Membatasi konsumsi lemak
Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kolesterol darah tidak terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan endapan kolesterol dalam dinding pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah dan akan memperberat kerja jantung. kadar kolesterol dalam darah dibatasi maksimal 200 mg – 250 mg per 100 cc serum darah.
d. Olah raga teratur.
e. Makan banyak buah dan sayuran segar.
f. Tidak merokok dan minum alcohol
g. Latihan relaksasi atau meditasi
h. Berusaha membina hidup positif
2.3.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Bergantung pada derajat hipertensi dan adanya faktor resiko lain terhadap kardiovaskular, ginjal dan penyakit neurologik.

a. Non Farmakologis
Modifikasi pola hidup ; penurunan berat badan untuk mencapai berat badan ideal, latihan fisik / olahraga 20 menit sehari, mengatur status gizi / asupan natrium ≤3g/hari , tidak merokok atau minum alkohol, serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur
1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih
Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap Tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.
2) Meningkatkan aktifitas fisik
Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% dari pada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
3) Mengatur Status Gizi
Dalam mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk menghindari dan membatasi makanan yang dapat meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung.Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:
(a) Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
(b) Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (Makanan yang diawetkan seperti dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, biscuit, craker, keripik dan makanan kering yang asin).
(c) Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
(d) Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
(e) Makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.serta Kafein yang dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
(f) Zat gizi yang diperlukan pada penderita hipertensi adalah karbohidrat, protein dan lemak yang disebut sebagai zat gizi makro serta vitamin dan mineral yang disebut dengan zat gizi mikro. Selain itu, untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh diperlukan air dan serat.
(g) Meningkatkan komsumsi buah, Sayur dan Serealia. berfungsi untuk membantu menyerap lemak dan kandungan seratnya membantu dalam poses pencernaan makanan.
b. Farmakologis
Prinsip pemberian obat pada pasien lanjut usia :
1. Sebaiknya dimulai dengan satu macam obat dengan dosis kecil
2. Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan, untuk penyesuaian autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.
3. Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari
4. Antisipasi efek samping obat
5. Pemantauan tekanan darah sendiri di rumah untuk evaluasi efektifitas pengobatan (Rohaendi:2008)
Pilihan obat : pilihan obat amat banyak dan bervariasi, berikut ini adalah anjuran : Hipertensi tanpa komplikasi ; diuretik atau peyekat β+diabetes melitus ACEI +PJK ; Penyekat β +gagal jantung : ACEI, diuretic. Penyebab sekunder Renovasikular; angioplasti ± stenting, bedah Parenkim ginjal ; pembatasan garam dan cairan, ± diuretic Etiologi endokrin – gangguan adrenal
Terapi farmakologis atau obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT 1 receptor antagonist/ blocker (ARB).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar